FILSAFAT ILMU

OLEH :
SELVI DIANA
1464040020
PENDIDIKAN IPS
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI
MAKASSAR
2015
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan
kehadirat Allah swt yang telah melimpahkan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalah ini dalam bentuk sederhana. Tak lupa salawat dan salam tercurah atas
junjungan Nabi besar Muhammad saw yang telah membawa manusia dari alam
kegelapan menuju alam yang terang-benderang.
Atas batuan dan bimbingan semua
pihak maka makalah ini dapat penulis selesaikan. Oleh karena itu patutlah
kiranya penulis menyampaikan terima kasih kepada :
1.
Bapak Dr. Syamsul
Sanusi selaku dosen mata kuliah Filsafat
Ilmu
2.
Kedua orang tua
tercinta yang memberi motivasi kepada penulis sehingga makalah ini dapat
terselesaikan.
3.
Rekan-rekan yang telah
memberikan bantuan baik moril maupun materil dalam menyelesaikan makalah ini.
Penulis
menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih terdapat banyak kekurangan. Untuk
itu penulis mengharapkan kririk dan saran yang bersifat membangun demi
perbaikan makalah ini. Besar harapan penulis agar makalah ini dapat bermanfaat
bagi pembaca pada umumnya dan penulis pada khususnya.
Makassar, 09 Mei 2015
Penulis,
ii
DAFTAR
ISI
Halaman
HALAMAN
JUDUL i
KATA PENGANTAR ii
DAFTAR ISI iii
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang 1
B. Rumusan
Masalah 1
C.
Tujuan Penulisan 1
BAB II PEMBAHASAN
A.
Pengertian filsafat 2
B. Perkembangan
filsafat 3
C. Pengertian
ilmu 7
D. Teori
tentang pengetahuan 8
E. Dasar-dasar
ilmu 9
F.
Sejarah perkembangan
ilmu 10
BAB III PENUTUP
A.
Kesimpulan 14
B.
Saran 14
iii
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Sebagai aktor sejarah, manusia
sekaligus sebagai peneliti, pengkaji, penganalisis sejarah. Dimana filsafat
disini harus difahami sebagai metode yang melalui medium peninggalan
jejak-jejak masa lampau, apapun bentuk jejak-jejak itu. Ber-filsafat
menghantarkan kita pada suatu fragmen sejarah yang selama ini dipahami hanya
sang sejarawan-lah yang mampu menginterpretasikannya.Dewasa ini, dimana setelah
filsafat mendapatkan kejayaannya kembali. Terbukti dengan banyak hadirnya
jurusan filsafat di Universitas-universitas ternama di Indonesia (khususnya
universitas Islam). Hal ini mengindikasikan bahwa filsafat bukan lagi sebagai
hantu dalam dunia pendidikan, namun sebaliknya. Filsafat kekinian, selain
sebagai medium untuk menganalisa atas ambiguitas kepingan sejarah yang sangat
terbatas, filsafat juga sebagai penyelamat sejarah. Dimana terjadi banyak
perdebatan mengenai eksistensi sejarah sebagai ilmu pengetahuan (epistemologi),
namun melalui renungan-renungan filsafat lah sejarah bukan lagi sebatas dongeng
belaka.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana
pengertian filsafat ?
2. Bagaimana
perkembangan filsafat ?
3. Bagaimana
pengertian ilmu ?
4. Apa saja
teori tentang pengetahuan ?
5. Apa saja
dasar-dasar ilmu ?
6. Bagaimana
sejarah perkembangan ilmu ?
C. Tujuan Penulisan
1. Menjelaskan
pengertian filsafat
2. Mendeskripsikan
perkembangan filsafat
3. Mengetahui
pengertian ilmu
4. Mengetahui
teori tentang pengetahuan
5. Mengetahui
dasar-dasar ilmu
6. Mendeskripsikan
sejarah perkembangan ilmu
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Filsafat
Istilah
filsafat berasal dari bahasa Yunani yaitu philosophia, yang terdiri atas kata
philos (cinta) atau philia (persahabatan, tertarik kepada) dan shopia (hikmah,
kebijaksanaan, pengetahuan, keterampilan, pengalaman praktis, inteligensi). Jadi
secara etimologi, filsafat berarti cinta kebijaksanaan atau kebenaran. Kata
falsafah merupakan arabisasi yang berarti pencarian yang dilakukan oleh para
filosof. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata filsafat yaitu pengetahuan
dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab asal
dan hukumnya. Filsafat merupakan proses berpikir, mindsetnya adalah otak,
pikiran, akal atau rasio yang merubah pola pikir bangsa Yunani dan bangsa lain
di dunia dari pandangan mitosentris, logosentris dan mater scientrum. Filsafat
mencakup berbagai masalah agama dan dunia. Istilah filsafat juga dapat ditinjau
dari dua segi yaitu :
1.
Segi semantik
Filsafat berasal dari bahasa arab falsafah, yang berasal dari bahasa yunani philosophia yaitu philos (cinta, suka) dan sophia (pengetahuan,
hikmah, wisdom). Jadi philosophia
berarti cinta kepada kebijaksanaan atau cinta kepada kebenaran. Maksudnya,
setiap orang yang berfilsafat akan menjadi bijaksana. Orang yang cinta kepada
pengetahuan disebut philosopher, dalam bahasa arab dinamakan failasuf. Pecinta
pengetahuan ialah orang yang menjadikan pengetahuan sebagai tujuan hidupnya,
atau dengan kata lain mengabdikan dirinya kepada pengetahuan.
2.
Segi praktis
Filsafat berarti alam pikiran atau
alam berpikir. Berfilsafat artinya berpikir. Namun tidak semua berpikir berarti
berfilsafat. Berfilsafat adalah berpikir secara mendalam dan sungguh-sungguh.
Sebuah semboyan mengatakan bahwa setiap manusia adalah filsuf. Semboyan ini
benar juga, sebab semua manusia berpikir. Akan tetapi secara umum semboyan itu
tidak benar, sebab tidak semua manusia yang berpikir adalah filsuf. Filsuf
hanyalah orang yang memikirkan hakikat segala sesuatu dengan sungguh-sungguh
dan mendalam. Filsafat adalah hasil akal seorang manusia yang mencari dan
memikirkan suatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya. Dengan kata lain filsafat
adalah ilmu yang mempelajari dengan sungguh-sungguh hakikat kebenaran segala
sesuatu.
Definisi filsafat menurut beberapa
tokoh yaitu :
1.
Plato
Filsafat adalah pengetahuan tentang
segala yang ada (ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli).
2.
Aristoteles
Filsafat adalah ilmua pengetahuan
yang meliputi kebenaran, yang di dalamnya terkandung ilmu-ilmu metafisika,
logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika (filsafat menyelidiki
sebab dan asas segala benda).
3.
Al-farabi
Filsafat adalah ilmu pengetahuan
tentang alam maujud dan bertujuan menyelidiki hakikat yang sebenarnya.
4.
Immanuel kant
Filsafat itu ilmu pokok dan pangkal
segala pengetahuan yang mencakup di dalamnya
persoalan: apakah yang dapat kita ketahui? (dijawab oleh metafisika),
apakah yang dapat kita kerjakan? (dijawab oleh etika) sampai di manakah pengharapan kita? (dijawab
oleh antropologi).
Selain itu, terdapat empat
pengertian pokok filsafat, yaitu :
1.
Filsafat adalah sekumpulan sikap dan
kepercayaan terhadap kehidupan alam yang biasanya tidak diterima dengan kritis
2.
Filsafat adalah suatu proses kritik
atau pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap yang sangat dijunjung tinggi
3.
Filsafat adalah usaha untuk
mendapatkan gambaran keseluruhan, artinya filsafat berusaha mengkombinasikan
hasil bermacam-macam science dan pengalaman-pengalaman kemanusiaan sehingga
pandangan tentang alam konsisten.
4.
Filsafat adalah analisa logis dari
bahasa serta penjelasan arti tentang kata dan konsep. Corak filsafat ini
dinamakan logosentrisme.
B.
Perkembangan
Filsafat
1.
Zaman Yunani Kuno
Periode
filsafat Yunani merupakan periode terpenting dalam sejarah peradaban manusia.
Hal ini disebabkan karena pada saat itu terjadi perubahan pola pikir
mitosentris yaitu pola pikir yang sangat mengandalkan mitos untuk menjelaskan
fenomena alam. Pada periode ini muncullah filosof pertama yang mengkaji tentang
asal usul alam yaitu Thales (624-546 SM). Pada masa itu, Ia mengatakan
bahwa asal alam adalah air karena unsur terpenting bagi setiap makhluk hidup
adalah air. Air dapat berubah menjadi gas seperti uap dan benda padat seperti
es, dan bumi ini juga berada di atas air. Sedangkan Heraklitos berpendapat
bahwa segala yang ada selalu berubah dan sedang menjadi. Ia mempercayai bahwa
arche (asas yang pertama dari alam semesta) adalah api. Api dianggapnya sebagai
lambang perubahan dan kesatuan. Api mempunyai sifat memusnahkan segala yang ada
dan mengubah sesuatu tersebut menjadi abu atau asap. Sehingga Heracllitos
menyimpulkan bahwa yang mendasar dalam alam semesta ini adalah bukan bahannya,
melainkan aktor dan penyebabnya, yaitu api. Permenides merupakan ahli filsuf
yang pertama kali memikirkan tentang hakikat tentang ada. Menurut pendapat
Permenides apa ang disebut sebagai realitas adalah bukan gerak dan perubahan.
Yang ada itu ada, yang ada dapat hilang menjadi ada, yang tidak ada adalah
tidak ada sehingga tidak dapat dipikirkan. Yang dapat dipikirkan hanyalah yang
ada saja, yang tidak ada tidak dapat dipikirkan. Dengan demikian, yang ada itu
satu, umum, tetap, dan tidak dapat di bagi-bagi karena membagi yang ada akan
menimbulkan atau melahirkan banyak yang ada, dan itu tidak mungkin.
Zaman keemasan atau puncak dari filsafat Yunani Kuno atau
Klasik, dicapai pada masa Sokrates (± 470 – 400 SM), Plato (428-348 SM) dan
Aristoteles (384-322 SM). Pemikiran filsafatnya untuk menyelidiki manusia
secara keseluruhan yaitu dengan menghargai nilai-nilai jasmaniah dan rohaniah
yang keduanya tidak dapat dipisahkan karena dengan keterkaitan kedua hal
tersebut banyak nilai yang dihasilkan. Selain itu Plato menerangkan bahwa manusia
itu sesungguhnya berada dalam dua dunia yaitu dunia pengalaman yang bersifat
tidak tetap dan dunia ide yang bersifat tetap. Dunia yang sesungguhnya atau
dunia realitas adalah dunia ide. Sedangkan
bagi Aristoteles ide bukanlah terletak dalam dunia abadi sebagaimana yang
dikemukakan oleh Plato, tetapi justru terletak pada kenyataan atau benda-benda
itu sendiri. Setiap benda mempunyai dua unsur yang tidak dapat dipisahkan,
yaitu materi dan bentuk. Lebih jauh bahkan dikatakan bahwa ide tidak dapat dilepaskan
atau dikatakan tanpa materi, sedangkan presentasi materi mestilah dengan
bentuk. Dengan demikian maka bentuk-bentuk bertindak di dalam materi, artinya
bentuk memberikan kenyataan kepada materi dan sekaligus adalah tujuan (finalis)
dari materi.
2. Zaman
Kegelapan
Zaman ini dikenal sebagai abad
pertengahan. Filsafat pada zaman ini dikuasai oleh pemikiran keagamaan yaitu
Kristiani. Puncak dari filsafat Kristiani adalah Patristik dan Skolastik
Patristik. Skolastik Patristik dibagi menjadi dua yaitu Patristik Yunani dan
Patristik Latin. Ajaran dari para Bapa Gereja ini adalah falsafi-teologis.
Ajaran ini ingin memperlihatkan bahwa iman sesuai dengan pikiran-pikiran paling
dalam dari manusia.
Ajaran-ajaran
ini banyak pengaruh dari plotinos. Pada zaman Skolastik pengaruh Ploinus
diambil alih oleh Aristoteles. Pertemuan pemikiran Aristoteles dengan iman
Kristiani menghasilkan filsuf penting sebagian ordo Dominikan dan Fransiskan.
3. Zaman
Pencerahan
Pada
Abad Petengahan ini muncullah seorang astronom berkebangsaan Polandia. Astronom
tersebut bernama N. Copernicus. Pada saat itu, N. Copernicus mengemukakan
temuannya bahwa pusat peredaran benda-benda angkasa adalah matahari
(Heleosentrisme). Galilieo Galilei adalah seorang penemu terbesar di bidang
ilmu pengetahuan. Ia menemukan bahwa sebuah peluru yang ditembakkan membuat
suatu gerak parabola, bukan gerak horisontal yang kemudian berubah menjadi
gerak vertikal. Ia menerima pandangan bahwa matahari adalah pusat jagad raya.
Dengan teleskopnya, ia mengamati jagad raya dan menemukan bahwa bintang
Bimasakti terdiri dari bintang-bintang yang banyak sekali jumlahnya dan
masing-masing berdiri sendiri. Karena pandangannya yang bertentangan dengan
tokoh Gereja akhirnya di hukum mati.
4. Zaman
Awal Modern
Pada
masa ini muncullah berbagai pemikiran Yunani antara lain rasionalisme,
empirisrme, dan kritisme. Masa ini juga menyebabkan perpecahan dalam agama
Kristen, yaitu Kristen Katolik dan Protestan. Pada masa ini, para filsuf jaman
modern menegaskan bahwa pengetahuan tidak berasal dari kitab suci atau ajaran
agama, tidak juga dari penguasa, tetapi dari diri mereka sendiri. Kemudian,
terjadilah perbedaan pendapat dalam memahami aspek tersebut. Aliran
rasionalisme beranggapan bahwa sumber pengetahuan adalah rasio yakni kebenaran
pasti berasal dari akal. Berbeda dengan aliran rasionalisme, aliran empirisme
meyakini bahwa pengalamanlah sumber pengetahuan itu, baik yang batin, maupun
yang inderawi. Kemudian, muncullah aliran kritisisme yang mencoba untuk
memadukan kedua pendapat tersebut.
5. Zaman
Modern
Pada
abad kedelapan belas mulai memasuki perkembangan baru. Filsuf-filsuf pada jaman
ini disebut sebagai para empirikus, yang ajarannya lebih menekankan bahwa suatu
pengetahuan adalah mungkin karena adanya pengalaman indrawi manusia. Immanuel
Kant memperkenalkan suatu konsepsi baru tentang pengetahuan. Pada dasarnya dia
tidak mengingkari kebenaran pengetahuan yang dikemukakan oleh kaum rasionalisme
maupun empirisme, yang salah apabila masing-masing dari keduanya mengkalim
secara ekstrim pendapatnya dan menolak pendapat yang lainnya. Dengan kata lain
memang pengetahuan dihimpun setelah melalui sistem penginderaan manusia, tetapi
tanpa pikiran murni yang aktif tidaklah mungkin tanpa kategorisasi dan penataan
dari rasio manusia. Menurut Kant, empirisme mengandung kelemahan karena
anggapan bahwa pengetahuan yang dimiliki manusia hanyalah rekaman kesan-kesan
dari pengalamannya. Pengetahuan yang dimiliki manusia merupakan hasil sintesis
antara yang sudah ada dalam kesadaran dan pikiran manusia dengan impresi yang
diperoleh dari pengalaman. Bagi Kant yang terpenting bagaimana pikiran manusia
mamahami dan menafsirkan apa yang direkam secara empirikal, bukan bagaimana
kenyataan itu tampil sebagai benda itu sendiri.
6. Zaman
Pos Modern
Filsafat
abad kesembilan belas dan abad kedua puluh banyak bermunculan aliran-aliran
baru dalam filsafat antara laian: positivisme, marxisme, eksistensialisme,
pragmatisme, neokantianisme, neo-tomisme dan fenomenologi. Berkaitan dengan
filosofi penelitian Ilmu Sosial, aliran yang tidak bisa dilewatkan adalah
positivisme yang digagas oleh filsuf A. Comte (1798-1857). Menurut Comte
pemikiran manusia dapat dibagi kedalam tiga tahap yaitu, teologis, metafisis,
dan positif ilmiah.
Pada
periode ini juga muncul aliran Pragmatisme. Pragmatisme berasal dari kata
pragma yang artinya guna. Maka pragmatisme adalah suatu aliran yang benar
adalah apa saja yang membuktikan dirinya sebagai yang benar dengan
akibat-akibat yang bermanfaat secara praktis. Tokohnya William James
(1842-1910) lahir di New York, memperkenalkan ide-idenya tentang pragmatisme
kepada dunia. Ia ahli dalam bidang seni, psikologi, anatomi, fisiologi dan
filsafat. Selain itu juga muncullah filsafat analitis. Tokoh aliran ini adalah
Ludwig Josef Johan Wittgenstein (1889-1951). Ilmu yang ditekuninya adalah ilmu
penerbangan yang memerlukan studi dasar matematika yang mendalam. Filsafat
analitis ini berpengaruh di Inggris dan Amerika sejak tahun 1950. Filsafat ini
membahas mengenai analisis bahasa dan anlisis konsep-konsep.
C.
Pengertian
Ilmu
Ilmu
adalah suatu cabang dari beragam pengetahuan dan kajian.Ia adalah cabang yang
berkaitan dengan verifikasi ataupun pengujian hakikat,metode,dan konsep dasar
yang dikaji melalui eksperimen dan premis.
Ilmu pada dasarnya merupakan upaya manusia untuk
menjelaskan berbagai fenomena empiris
yang terjadi di alam ini, tujuan dari upaya tersebut adalah untuk memperoleh
suatu pemahaman yang benar atas fenomena tersebut. Terdapat kecenderungan yang
kuat sejak berjayanya kembali akal pemikiran manusia adalah keyakinan bahwa
ilmu merupakan satu-satunya sumber kebanaran, segala sesuatu penjelasan yang
tidak dapat atau tidak mungkin diuji, diteliti, atau diobservasi adalah sesuatu
yang tidak benar, dan karena itu tidak patut dipercayai.
Akan tetapi kenyataan menunjukan bahwa tidak semua
masalah dapat dijawab dengan ilmu, banyak sekali hal-hal yang merupakan konsern
manusia, sulit, atau bahkan tidak mungkin dijelaskan oleh ilmu seperti masalah Tuhan, Hidup sesudah mati,
dan hal-hal lain yang bersifat non – empiris. Oleh karena itu bila manusia
hanya mempercayai kebenaran ilmiah sebagai satu-satunya kebenaran, maka dia
telah mempersempit kehidupan dengan hanya mengikatkan diri dengan dunia
empiris, untuk itu diperlukan pemahaman tentang apa itu kebenaran baik dilihat
dari jalurnya (gradasi berfikir) maupun macamnya.
Pengertian
ilmu menurut ahli diantaranya yaitu :
1. Jujun
S.Suriasumantri
Pada fase empiris
rasional ilmu adalah sekedar apa yang dicapai,ilmu tak dirasakan sebagai suatu tantangan.Dalam fase empiris
rasional,Aristoteles mengatakan bahwa ilmu adalah kebijaksanaan yang
mengajarkan bagaimana manusia harus
mengarahkan Negara.
2. Kemeny
Ilmu diartikan sebagai
semua pengetahuan yang terhimpun lewat metode
– metode keilmuan.Pengetahuan
diperoleh sebagai hasil rentetan
daur-daur penyimpul-rampatan (induksi), penyimpulan kekhasan (deduksi) dan
penyahihan (verifikasi/validasi) yang terus-menerus tak kunjung usai.
3. Muhammad
Izzudin Taufiq
Ilmu adalah suatu
keyakinan dengan realitas yang ada dan ilmu adalah menelusuri hakikat sesuatu
atau mengungkapkan karakteristik sesuatu dengan optimal.
4. Dr.Fu’ad
Abu Hatab
Ilmu bukanlah suatu
himpunan, namun suatu pergantian yang melewati masa-masa tenang,maka aktivitas
keilmuan berjalan dengan lancar karena keilmuan dapat mengacu kepada
teori-teori yang diyakininya dan
merupakan arahan bagi penelitiannya.(Filsafat ilmu-premis yang tersirat dan tersurat
dalam fenomena keilmuan-problematika yang bias dikaji-ruang gerak yang terbatas
dalam menemukan solusi yang tepat-konsep terbaik yang merupakan tujuan-waktu
yang tepat untuk mengaplikasikan ilmu dan lain sebagainya.
D.
Teori
tentang Pengetahuan
Epistemologi
atau teori pengetahuan yang berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan,
pengandaian-pengandaian, dasar-dasarnya serta pertanggungjawaban atas
pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh setiap manusia. Pengetahuan
tersebut diperoleh manusia melalui akal dan panca indera dengan berbagai metode
yaitu :
1. Empirisme
Empirisme adalah suatu
cara atau metode dalam filsafat yang mendasarkan cara memperoleh pengetahuan
dengan melalui pengalaman. John Locke mengatakan bahwa pada waktu manusia
dilahirkan akalnyamerupakan jenis catatan yang kosong, di dalam buku itulah
dicatat pengalaman-pengalaman inderawi. Ia memandang akal sebagai tempat
penampungan yang secara pasif menerima hasil-hasil penginderaan tersebut. Ini
berarti semua pengetahuan kita, betapapun rumitnya dapat dilacak kembali sampai
kepada pengalaman-pengalaman inderawi yang pertama. Apa yang tidak dapat atau
tidak perlu dilacak kembali secara demikian itu bukanlah pengetahuan, atau
setidaknya bukanlah pengetahuan-pengetahuanyang faktual.
2. Rasionalisme
Rasionalisme
berpendirian bahwa sumber pengetahuan terletak pada akal, bukan karena
rasionalisme mengingkari nilai pengalaman, melainkan pengalaman paling-paling
dipandang sebagai sejenis perangsang bagi pikiran. Para penganut rasionalisme
yakin bahwa kebenaran dan kesesatan terletak di dalam ide kita dan bukan di dalam
diri barang sesuatu. Jika kebenaran mengandung makna mempunyai ide yang sesuai
dengan menunjuk pada kenyataan, maka kebenaran hanya dapat ada di dalam pikiran
kita dan hanya dapat diperoleh dengan akal budi saja.
3. Intuisi
Intuisi adalah hasil
dari evolusi pemahaman yang tertinggi, suatu pengetahuan yang langsung, mutlak,
dan bukan pengetahuan yang nisbi. Menurut Bergson, intuisi adalah suatu sarana
untuk mengatahui secara langsung dan seketika. Setidaknya dalam bebrapa bentuk
hanya mengatakan bahwa pengetahuan yang lengkap diperoleh melalui intuisi.
E.
Dasar-dasar
Ilmu
1. Aksiologi
Aksiologiadalahistilah yang berasaldari kata Yunaniyaitu; axios yang
berartisesuaiatauwajar.Sedangkan logos yang
berartiilmu.Aksiologidipahamisebagaiteorinilai.JujunS.Suriasumantrimengartikaaksiologisebagaiteorinilai
yang berkaitandengankegunaandaripengetahuan yang diperoleh.Menurut John
Sinclair,
dalamlingkupkajianfilsafatnilaimerujukpadapemikiranatausuatusistemsepertipolitik,
sosialdan agama. sedangkannilaiitusendiriadalahsesuatu yang berharga, yang
diidamkanolehsetiapinsan.
Aksiologiadalahilmu yang
membicarakantentangtujuanilmupengetahuanitusendiri.JadiAksiologimerupakanilmu
yang mempelajarihakikatdanmanfaat yang sebenarnyadaripengetahuan,
dansebenarnyailmupengetahuanitutidakada yang
sia-siakalaukitabisamemanfaatkannyadantentunyadimanfaatkandengansebaik-baiknyadan
di jalan yang baik pula.Karenaakhir-akhirinibanyaksekali yang
mempunyaiilmupengetahuan yang lebihitudimanfaatkan di jalan yang tidakbenar.
Pembahasanaksiologimenyangkutmasalahnilaikegunaanilmu.Ilmutidakbebasnilai.Artinyapadatahap-tahaptertentukadangilmuharusdisesuaikandengannilai-nilaibudayadan
moral suatumasyarakat;
sehingganilaikegunaanilmutersebutdapatdirasakanolehmasyarakatdalamusahanyameningkatkankesejahteraanbersama,
bukansebaliknyamalahanmenimbulkanbencana.
Tiga
bagian aksiologi menurut Brammel yaitu :
1. Moral
conduct, yaitu tindakan moral, melahirkan disiplin khusus yakni etika
2. Esthetic
expression, yaitu ekspresi keindahan, melahirkan keindahan
3. Sosio
polical life, yakni kehidupan sosial politik, melahirkan filsafat sosial
politik
2. Epistemologi
Epistemologi
berarti pikiran, percakapan tentang pengetahuan, bisa juga disebut teori
pengetahuan. Pengetahuan adalah apa yang kita ketahui yang berupa kesimpulan
yang merupakan hasil dari pengamatan terhadap sesuatu gejala yang spasial atau
segala tahunya sesuatu secara bagian per bagian seseorang baik bersumber dari
dirinya sendiri maupun dari orang lain mengenai segala sesuatu dan dasar segala
seuatu.
Epistemologiatauteoripengetahuanadalahcabangfilsafat
yang berurusandenganhakikatdanlingkuppengetahuan,
pengandaian-pengandaiandandasar-dasarnyasertapertanggungjawabanataspernyataanmengenaipengetahuan
yang dimiliki.Mula-mulamanusiapercayabahwadengankekuasaanpengenalannyaiadapatmencapairealitassebagaimanaadanyaparafilosofpraSokrates,
yaitufilosofpertama di alamtradisi Barat,
tidakmemberikanperhatianpadacabangfilsafatinisebabmerekamemusatkanperhatian,
terutamapadaalamdankemungkinanperubahan, sehinggamerekakerapdijulukifilosofalam.
3. Ontologi
Pembahasan
tentang ontologi sebagai dasar suatu ilmu ialah berusaha untuk menjawab apa, yang menurut Aristoteles merupakan The
First Philosophy dan merupakan ilmu mengenai esensi benda. Secara
etimologi, kata ontologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu On yang
berarti ada, dan Logos yang
berarti Ilmu pengetahuan, jadi ontologi adalah ilmu yang mempelajari
tentang segala yang ada. Sedangkan pengertian ontologi secara terminologi yaitu
ontologi adalah menyelidiki sifat dasar dari apa yang nyata secara fundamental
dan cara yang berbeda di mana entitas dari kategori-kategori yang logis yang
berlainan (objek-objek fisis, hal universal, abstraksi) dapat dikatakana ada,
dalam kerangka tradisional ontologi dianggap sebagai teori mengenai
prinsip-prinsip umum dari hal ada, sedangkan dalam hal pemakaiannya akhir-akhir
ini ontologi dipandang sebagai teori mengenai apa yang ada.
Ontologidalamfilsafatanalitik,
menyangkutmenentukanapakahbeberapakategori yang
sangatpentingdanbertanyadalamapaarti item dalamkategoritersebutdapatdikatakan
"menjadi". Iniadalahpenyelidikanberada di begitubanyaksepertisedang,
ataumenjadimakhluksejauhmerekaada-dantidaksejauh, misalnya, fakta-faktatertentu
yang diperolehtentangmerekaataupropertitertentu yang berhubungandenganmereka.MenurutEnsiklopedi
Britannica Yang
jugadiangkatdariKonsepsiAristotelesOntologiYaituteoriataustuditentang being /
wujudsepertikarakteristikdasardariseluruhrealitas.Ontologisinonimdenganmetafisikayaitu,
studifilosofisuntukmenentukansifatnyata yang asli (real nature)
darisuatubendauntukmenentukanarti ,strukturdanprinsipbendatersebut.
(FilosofiinididefinisikanolehAristotelesabad ke-4 SM).
Ontologi
merupakan salah satu di antara lapangan penyelidikan kefilsafatan yang paling
kuno. Awal mula alam pikiran Yunani telah menunjukan munculnya perenungan di
bidang ontologi. Dalam persolan ontologi orang menghadapi persoalan
bagaimanakah kita menerangkan hakikat dari segala yang ada ini? Pertama kali
orang dihadapkan pada adanya dua macam kenyataan, yaitu kenyataan yang berupa materi
(kebenaran) dan kenyataan yang berupa rohani (kejiwaan). Dengan demikian,
metafisika umum atau ontologi adalah cabang filsafat yang membicarakan prinsip
paling dasar atau paling dalam dari segala sesuatu yang ada.
F. Sejarah Perkembangan Ilmu
Perkembangan ilmu pengetahuan seperti
sekarang ini tidaklah berlangsung secara mendadak, melainkan terjadi secara
bertahap, evolutif. Karena untuk memahami sejarah perkembangan ilmu mau tidak
mau harus melakukan pembagian atau klasifikasi secara periodik, karena setiap
periode menampilkan ciri khas tertentu dalam perkembangan ilmu pengetahuan.
Perkembangan pemikiran secara teoritis senantiasa mengacu kepada peradaban
Yunani Kuno dan diakhiri pada zaman kontemporer.
1.
Zaman Pra Yunani
Kuno
Pada
abad ke-6 SM di Yunani muncul lahirnya filsafat. Timbulnya filsafat ditempat
itu disebut suatu peristiwa ajaib (the
greek miracle). Ada beberapa faktor yang sudah mendahului dan seakan-akan
mempersiapkan lahirnya filsafat di Yunani. Beberapa faktor tersebut diantaranya
: pada bangsa Yunani dan bangsa-bangsa sekitarnya terdapat suatu mitologi yang
kaya dan luas, Kesusastraan Yunani berupa puisi karya Homeros yang sangat
digemari oleh rakyat untuk mengisi waktu terluang dan serentak juga mempunyai
nilai edukatif, dan pengaruh ilmu pengetahuan yang pada waktu itu sudah
terdapat di Timur Kuno.
Pada
zaman pra Yunani Kuno di dunia ilmu pengetahuan dicirikan berdasarkan know how
yang dilandasi pengalaman empiris. Disamping itu, kemampuan berhitung ditempuh
dengan cara one-to one correspondency
atau mapping process. Contoh, cara
menghitung hewan yang akan masuk dan keluar kandang dengan menggunakan kerikil.
Namun pada masa ini manusia sudah mulai memperhatikan keadaan alam semesta
sebagai suatu proses alam. Dengan demikian lama kelamaan mereka juga
memperhatikan dan menemukan hal-hal lainnya.
2.
Zaman Yunani
Kuno
Zaman
Yunani kuno dipandang sebagai zaman keemasan filsafat, karena pada zaman ini orang
memiliki kebebasan untuk mengungkapkan ide-ide atau pendapatnya. Yunani pada
masa itu dianggap sebagai gudang ilmu dan filsafat, karena bangsa Yunani pada
masa itu tidak lagi mempercayai mitologi-mitologi. Bangsa Yunani juga tidak
dapat menerima pengalaman yang didasarkan pada sikap menerima begitu saja,
melainkan menumbuhkan sikap yang senang menyelidiki sesuatu secara kritis.Sikap
belakangan inilah yang menjadi cikal bakal tumbuhnya ilmu pengetahuan modern.
Sikap kritis inilah menjadikan bangsa Yunani tampil sebagai ahli pikir terkenal
sepanjang masa. Beberapa filsuf pada masa itu antara lain Thales, Phytagoras. Socrates, Plato, dan Aristoteles.
3.
Zaman Abad
Pertengahan
Zaman
abad pertengahan ditandai dengan tampilnya para teolog di lapangan ilmu
pengetahuan. Para ilmuwan pada masa ini hampir semua adalah para teolog, sehingga aktivitas terkait
dengan aktivitas keagamaan. Semboyan yang berlaku bagi ilmu pada masa ini
adalah ancilla theologia atau abdi
agama. Namun demikian harus diakui bahwa banyak juga temuan dalam bidang ilmu
yang terjadi pada masa ini.Periode abad pertengahan mempunyai perbedaan yang
mencolok dengan abad sebelumnya.
Perberdaan
itu terletak pada dominasi agama. Timbulnya agama Kristen yang diajarkan oleh
Nabi Isa as. pada permulaan abad Masehi membawa perubahan besar terhadap
kepercayaan keagamaan. Agama Kristen menjadi problem kefilsafatan karena
mengajarkan bahwa wahyu Tuhanlah yang merupakan kebenaran yang sejati. Hal ini
berbeda dengan pandangan Yunani Kuno yang mengatakan bahwa kebenaran dapat
dicapai oleh kemampuan akal. Mereka belum mengenal adanya wahyu.
4.
Zaman
Renaissance
Zaman Renaissance ditandai sebagai era kebangkitan kembali pemikiran yang
bebas dari dogma-dogma agama. Renaissance adalah zaman peralihan ketika
kebudayaan abad Pertengahan mulai berubah menjadi suatu kebudayaan modern. Manusia
ingin mencapai kemajuan atas hasil usaha sendiri, tidak didasarkan atas campur
tangan Ilahi. Penemuan ilmu pengetahuan modern sudah mulai dirintis pada zaman
Renaissance. Ilmu pengetahuan yang berkembang maju pada masa ini adalah bidang
astronomi. Tokoh-tokoh yang terkenal seperti Roger Bacon, Copernicus, Johannes Keppler, Galileo Galilei.
5.
Zaman Modern
Zaman
modern ditandai dengan berbagai penemuan dalam bidang ilmiah. Perkembangan ilmu
pengetahuan pada zaman modern sesungguhnya sudah dirintis sejak zaman
Renaissance. Seperti Rene Descartes,
tokoh yang terkenal sebagai bapak filsafat modern. Rene Descartes juga seorang
ahli ilmu pasti. Penemuannya dalam ilmu pasti adalah sistem koordinat yang
terdiri atas dua garis lurus X dan Y dalam bidang datar. Isaac Newton dengan temuannya teori gravitasi. Charles Darwin dengan teorinya struggle
for life (perjuangan untuk hidup). J.
J. Thompson dengan temuannya elektron.
6.
Zaman
Kontemporer
Zaman
kontemporer ini ditandai dengan penemuan berbagai teknologi canggih. Teknologi
canggih komunikasi dan informasi termasuk salah satu yang mengalami kemajuan
sangat pesat. Mulai dari penemuan komputer, berbagai satelit komunikasi,
internet, dan sebagainya. Bidang ilmu lain juga mengalami kemajuan pesat,
sehingga terjadi spesialisasi ilmu yang semakin tajam. Ilmuwan kontemporer
mengetahui hal yang sedikit, tetapi secara mendalam. Ilmu kedokteran semakin
menajam dalam spesialis dan subspesialis atau super-spesialis, demikian pula
bidang ilmu lain. Disamping kecenderungan kearah spesialisasi, kecenderungan
lain adalah sintesis antara bidang ilmu satu dengan lainnya, sehingga
dihasilkannya bidang ilmu baru seperti bioteknologi yang dewasa ini dikenal
dengan teknologi kloning.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1.
Filsafat adalah
ilmua pengetahuan yang meliputi kebenaran, yang di dalamnya terkandung
ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika
(filsafat menyelidiki sebab dan asas segala benda).
2.
Perkembangan Filsafat dimulai dari
zaman yunani kuno, zaman kegelapan, zaman pencerahan, zaman awal modern, zaman
modern, dan zaman pos modern.
3.
Ilmu adalah
suatu cabang dari beragam pengetahuan dan kajian.Ia adalah cabang yang
berkaitan dengan verifikasi ataupun pengujian hakikat,metode,dan konsep dasar
yang dikaji melalui eksperimen dan premis.
4.
Pengetahuan
tersebut diperoleh manusia melalui akal dan panca indera dengan berbagai metode
yaitu empirisme, rasionalisme, dan intuisi.
5.
Dasar-dasar ilmu
ada tiga yaitu aksiologi, epistemologi, dan ontologi
6. Perkembangan
ilmu pengetahuan seperti sekarang ini tidaklah berlangsung secara mendadak,
melainkan terjadi secara bertahap, evolutif. Perkembangan pemikiran secara
teoritis senantiasa mengacu kepada peradaban Yunani Kuno dan diakhiri pada
zaman kontemporer.
B.
Saran
Penulis
menyadari dalam pembuatan makalah ini masih terdapat kekurangan. Untuk itu
kritik, saran dan pendapat yang bersifat membangun sangat penulis harapkan dari
para pembaca untuk perbaikan yang akan datang.
DAFTAR
PUSTAKA
Ghulsyani,mahdi.
1986. Filsafat-Sains menurut Al-Qur’an.
Bandung: Penerbit Mizan
http://historia-rockgill.blogspot.com/2011/12/definisi-aksiologiontologi-dan.htmlhttp://mampemaisztre.blogspot.com/2014/01/sejarah-perkembangan-filsafat-dari.htmhttp://ponda-samarkand.blogspot.com/2013/01/dasar-dasar-ilmu.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar