Kamis, 23 Maret 2017

FILSAFAT ILMU

FILSAFAT ILMU



OLEH : 

SELVI DIANA
1464040020
PENDIDIKAN IPS


FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2015


KATA PENGANTAR
            Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah swt yang telah melimpahkan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dalam bentuk sederhana. Tak lupa salawat dan salam tercurah atas junjungan Nabi besar Muhammad saw yang telah membawa manusia dari alam kegelapan menuju alam yang terang-benderang.
            Atas batuan dan bimbingan semua pihak maka makalah ini dapat penulis selesaikan. Oleh karena itu patutlah kiranya penulis menyampaikan terima kasih kepada :
1.      Bapak Dr. Syamsul Sanusi selaku dosen  mata kuliah Filsafat Ilmu
2.      Kedua orang tua tercinta yang memberi motivasi kepada penulis sehingga makalah ini dapat terselesaikan.
3.      Rekan-rekan yang telah memberikan bantuan baik moril maupun materil dalam menyelesaikan makalah ini.

Penulis menyadari sepenuhnya bahwa makalah ini masih terdapat banyak kekurangan. Untuk itu penulis mengharapkan kririk dan saran yang bersifat membangun demi perbaikan makalah ini. Besar harapan penulis agar makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca pada umumnya dan penulis pada khususnya.


Makassar, 09 Mei 2015


Penulis,





ii

DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL                                                                                                              i
KATA PENGANTAR                                                                                   ii
DAFTAR ISI                                                                                                               iii
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang                                                                                                            1
B.     Rumusan Masalah                                                                                                       1
C.     Tujuan Penulisan                                                                                                         1
BAB II PEMBAHASAN
A.    Pengertian filsafat                                                                                                       2
B.     Perkembangan filsafat                                                                                                            3
C.     Pengertian ilmu                                                                                                           7
D.    Teori tentang pengetahuan                                                                                          8
E.     Dasar-dasar ilmu                                                                                                         9
F.      Sejarah perkembangan ilmu                                                                                        10
BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan                                                                                                                 14
B.     Saran                                                                                                                           14
DAFTAR PUSTAKA                                                                                                                        15














iii
BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
            Sebagai aktor sejarah, manusia sekaligus sebagai peneliti, pengkaji, penganalisis sejarah. Dimana filsafat disini harus difahami sebagai metode yang melalui medium peninggalan jejak-jejak masa lampau, apapun bentuk jejak-jejak itu. Ber-filsafat menghantarkan kita pada suatu fragmen sejarah yang selama ini dipahami hanya sang sejarawan-lah yang mampu menginterpretasikannya.Dewasa ini, dimana setelah filsafat mendapatkan kejayaannya kembali. Terbukti dengan banyak hadirnya jurusan filsafat di Universitas-universitas ternama di Indonesia (khususnya universitas Islam). Hal ini mengindikasikan bahwa filsafat bukan lagi sebagai hantu dalam dunia pendidikan, namun sebaliknya. Filsafat kekinian, selain sebagai medium untuk menganalisa atas ambiguitas kepingan sejarah yang sangat terbatas, filsafat juga sebagai penyelamat sejarah. Dimana terjadi banyak perdebatan mengenai eksistensi sejarah sebagai ilmu pengetahuan (epistemologi), namun melalui renungan-renungan filsafat lah sejarah bukan lagi sebatas dongeng belaka.
B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana pengertian filsafat ?
2.      Bagaimana perkembangan filsafat ?
3.      Bagaimana pengertian ilmu ?
4.      Apa saja teori tentang pengetahuan ?
5.      Apa saja dasar-dasar ilmu ?
6.      Bagaimana sejarah perkembangan ilmu ?
C.    Tujuan Penulisan
1.      Menjelaskan pengertian filsafat
2.      Mendeskripsikan perkembangan filsafat
3.      Mengetahui pengertian ilmu
4.      Mengetahui teori tentang pengetahuan
5.      Mengetahui dasar-dasar ilmu
6.      Mendeskripsikan sejarah perkembangan ilmu



BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Filsafat
Istilah filsafat berasal dari bahasa Yunani yaitu philosophia, yang terdiri atas kata philos (cinta) atau philia (persahabatan, tertarik kepada) dan shopia (hikmah, kebijaksanaan, pengetahuan, keterampilan, pengalaman praktis, inteligensi). Jadi secara etimologi, filsafat berarti cinta kebijaksanaan atau kebenaran. Kata falsafah merupakan arabisasi yang berarti pencarian yang dilakukan oleh para filosof. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata filsafat yaitu pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab asal dan hukumnya. Filsafat merupakan proses berpikir, mindsetnya adalah otak, pikiran, akal atau rasio yang merubah pola pikir bangsa Yunani dan bangsa lain di dunia dari pandangan mitosentris, logosentris dan mater scientrum. Filsafat mencakup berbagai masalah agama dan dunia. Istilah filsafat juga dapat ditinjau dari dua segi yaitu :
1.      Segi semantik
Filsafat berasal dari bahasa arab falsafah, yang berasal dari bahasa yunani philosophia yaitu philos (cinta, suka) dan sophia (pengetahuan, hikmah, wisdom). Jadi philosophia berarti cinta kepada kebijaksanaan atau cinta kepada kebenaran. Maksudnya, setiap orang yang berfilsafat akan menjadi bijaksana. Orang yang cinta kepada pengetahuan disebut philosopher, dalam bahasa arab dinamakan failasuf. Pecinta pengetahuan ialah orang yang menjadikan pengetahuan sebagai tujuan hidupnya, atau dengan kata lain mengabdikan dirinya kepada pengetahuan.
2.      Segi praktis
Filsafat berarti alam pikiran atau alam berpikir. Berfilsafat artinya berpikir. Namun tidak semua berpikir berarti berfilsafat. Berfilsafat adalah berpikir secara mendalam dan sungguh-sungguh. Sebuah semboyan mengatakan bahwa setiap manusia adalah filsuf. Semboyan ini benar juga, sebab semua manusia berpikir. Akan tetapi secara umum semboyan itu tidak benar, sebab tidak semua manusia yang berpikir adalah filsuf. Filsuf hanyalah orang yang memikirkan hakikat segala sesuatu dengan sungguh-sungguh dan mendalam. Filsafat adalah hasil akal seorang manusia yang mencari dan memikirkan suatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya. Dengan kata lain filsafat adalah ilmu yang mempelajari dengan sungguh-sungguh hakikat kebenaran segala sesuatu.
Definisi filsafat menurut beberapa tokoh yaitu :
1.      Plato
Filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada (ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli).
2.      Aristoteles
Filsafat adalah ilmua pengetahuan yang meliputi kebenaran, yang di dalamnya terkandung ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika (filsafat menyelidiki sebab dan asas segala benda).
3.      Al-farabi
Filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam maujud dan bertujuan menyelidiki hakikat yang sebenarnya.
4.      Immanuel kant
Filsafat itu ilmu pokok dan pangkal segala pengetahuan yang mencakup di dalamnya  persoalan: apakah yang dapat kita ketahui? (dijawab oleh metafisika), apakah yang dapat kita kerjakan? (dijawab oleh etika)  sampai di manakah pengharapan kita? (dijawab oleh antropologi).
Selain itu, terdapat empat pengertian pokok filsafat, yaitu :
1.      Filsafat adalah sekumpulan sikap dan kepercayaan terhadap kehidupan alam yang biasanya tidak diterima dengan kritis
2.      Filsafat adalah suatu proses kritik atau pemikiran terhadap kepercayaan dan sikap yang sangat dijunjung tinggi
3.      Filsafat adalah usaha untuk mendapatkan gambaran keseluruhan, artinya filsafat berusaha mengkombinasikan hasil bermacam-macam science dan pengalaman-pengalaman kemanusiaan sehingga pandangan tentang alam konsisten.
4.      Filsafat adalah analisa logis dari bahasa serta penjelasan arti tentang kata dan konsep. Corak filsafat ini dinamakan logosentrisme.
B.     Perkembangan Filsafat
1.      Zaman Yunani Kuno
Periode filsafat Yunani merupakan periode terpenting dalam sejarah peradaban manusia. Hal ini disebabkan karena pada saat itu terjadi perubahan pola pikir mitosentris yaitu pola pikir yang sangat mengandalkan mitos untuk menjelaskan fenomena alam. Pada periode ini muncullah filosof pertama yang mengkaji tentang asal usul alam  yaitu Thales (624-546 SM). Pada masa itu, Ia mengatakan bahwa asal alam adalah air karena unsur terpenting bagi setiap makhluk hidup adalah air. Air dapat berubah menjadi gas seperti uap dan benda padat seperti es, dan bumi ini juga berada di atas air. Sedangkan Heraklitos berpendapat bahwa segala yang ada selalu berubah dan sedang menjadi. Ia mempercayai bahwa arche (asas yang pertama dari alam semesta) adalah api. Api dianggapnya sebagai lambang perubahan dan kesatuan. Api mempunyai sifat memusnahkan segala yang ada dan mengubah sesuatu tersebut menjadi abu atau asap. Sehingga Heracllitos menyimpulkan bahwa yang mendasar dalam alam semesta ini adalah bukan bahannya, melainkan aktor dan penyebabnya, yaitu api. Permenides merupakan ahli filsuf yang pertama kali memikirkan tentang hakikat tentang ada. Menurut pendapat Permenides apa ang disebut sebagai realitas adalah bukan gerak dan perubahan. Yang ada itu ada, yang ada dapat hilang menjadi ada, yang tidak ada adalah tidak ada sehingga tidak dapat dipikirkan. Yang dapat dipikirkan hanyalah yang ada saja, yang tidak ada tidak dapat dipikirkan. Dengan demikian, yang ada itu satu, umum, tetap, dan tidak dapat di bagi-bagi karena membagi yang ada akan menimbulkan atau melahirkan banyak yang ada, dan itu tidak mungkin.
      Zaman keemasan atau puncak dari filsafat Yunani Kuno atau Klasik, dicapai pada masa Sokrates (± 470 – 400 SM), Plato (428-348 SM) dan Aristoteles (384-322 SM). Pemikiran filsafatnya untuk menyelidiki manusia secara keseluruhan yaitu dengan menghargai nilai-nilai jasmaniah dan rohaniah yang keduanya tidak dapat dipisahkan karena dengan keterkaitan kedua hal tersebut banyak nilai yang dihasilkan. Selain itu Plato menerangkan bahwa manusia itu sesungguhnya berada dalam dua dunia yaitu dunia pengalaman yang bersifat tidak tetap dan dunia ide yang bersifat tetap. Dunia yang sesungguhnya atau dunia realitas adalah dunia ide.  Sedangkan bagi Aristoteles ide bukanlah terletak dalam dunia abadi sebagaimana yang dikemukakan oleh Plato, tetapi justru terletak pada kenyataan atau benda-benda itu sendiri. Setiap benda mempunyai dua unsur yang tidak dapat dipisahkan, yaitu materi dan bentuk. Lebih jauh bahkan dikatakan bahwa ide tidak dapat dilepaskan atau dikatakan tanpa materi, sedangkan presentasi materi mestilah dengan bentuk. Dengan demikian maka bentuk-bentuk bertindak di dalam materi, artinya bentuk memberikan kenyataan kepada materi dan sekaligus adalah tujuan (finalis) dari materi.
2.      Zaman Kegelapan
Zaman ini dikenal sebagai abad pertengahan. Filsafat pada zaman ini dikuasai oleh pemikiran keagamaan yaitu Kristiani. Puncak dari filsafat Kristiani adalah Patristik dan Skolastik Patristik. Skolastik Patristik dibagi menjadi dua yaitu Patristik Yunani dan Patristik Latin. Ajaran dari para Bapa Gereja ini adalah falsafi-teologis. Ajaran ini ingin memperlihatkan bahwa iman sesuai dengan pikiran-pikiran paling dalam dari manusia.
Ajaran-ajaran ini banyak pengaruh dari plotinos. Pada zaman Skolastik pengaruh Ploinus diambil alih oleh Aristoteles. Pertemuan pemikiran Aristoteles dengan iman Kristiani menghasilkan filsuf penting sebagian ordo Dominikan dan Fransiskan.
3.      Zaman Pencerahan
Pada Abad Petengahan ini muncullah seorang astronom berkebangsaan Polandia. Astronom tersebut bernama N. Copernicus. Pada saat itu, N. Copernicus mengemukakan temuannya bahwa pusat peredaran benda-benda angkasa adalah matahari (Heleosentrisme). Galilieo Galilei adalah seorang penemu terbesar di bidang ilmu pengetahuan. Ia menemukan bahwa sebuah peluru yang ditembakkan membuat suatu gerak parabola, bukan gerak horisontal yang kemudian berubah menjadi gerak vertikal. Ia menerima pandangan bahwa matahari adalah pusat jagad raya. Dengan teleskopnya, ia mengamati jagad raya dan menemukan bahwa bintang Bimasakti terdiri dari bintang-bintang yang banyak sekali jumlahnya dan masing-masing berdiri sendiri. Karena pandangannya yang bertentangan dengan tokoh Gereja akhirnya di hukum mati.
4.      Zaman Awal Modern
Pada masa ini muncullah berbagai pemikiran Yunani antara lain rasionalisme, empirisrme, dan kritisme. Masa ini juga menyebabkan perpecahan dalam agama Kristen, yaitu Kristen Katolik dan Protestan. Pada masa ini, para filsuf jaman modern menegaskan bahwa pengetahuan tidak berasal dari kitab suci atau ajaran agama, tidak juga dari penguasa, tetapi dari diri mereka sendiri. Kemudian, terjadilah perbedaan pendapat dalam memahami aspek tersebut. Aliran rasionalisme beranggapan bahwa sumber pengetahuan adalah rasio yakni kebenaran pasti berasal dari akal. Berbeda dengan aliran rasionalisme, aliran empirisme meyakini bahwa pengalamanlah sumber pengetahuan itu, baik yang batin, maupun yang inderawi. Kemudian, muncullah aliran kritisisme yang mencoba untuk memadukan kedua pendapat tersebut.
5.      Zaman Modern
Pada abad kedelapan belas mulai memasuki perkembangan baru. Filsuf-filsuf pada jaman ini disebut sebagai para empirikus, yang ajarannya lebih menekankan bahwa suatu pengetahuan adalah mungkin karena adanya pengalaman indrawi manusia. Immanuel Kant memperkenalkan suatu konsepsi baru tentang pengetahuan. Pada dasarnya dia tidak mengingkari kebenaran pengetahuan yang dikemukakan oleh kaum rasionalisme maupun empirisme, yang salah apabila masing-masing dari keduanya mengkalim secara ekstrim pendapatnya dan menolak pendapat yang lainnya. Dengan kata lain memang pengetahuan dihimpun setelah melalui sistem penginderaan manusia, tetapi tanpa pikiran murni yang aktif tidaklah mungkin tanpa kategorisasi dan penataan dari rasio manusia. Menurut Kant, empirisme mengandung kelemahan karena anggapan bahwa pengetahuan yang dimiliki manusia hanyalah rekaman kesan-kesan dari pengalamannya. Pengetahuan yang dimiliki manusia merupakan hasil sintesis antara yang sudah ada dalam kesadaran dan pikiran manusia dengan impresi yang diperoleh dari pengalaman. Bagi Kant yang terpenting bagaimana pikiran manusia mamahami dan menafsirkan apa yang direkam secara empirikal, bukan bagaimana kenyataan itu tampil sebagai benda itu sendiri.
6.      Zaman Pos Modern
Filsafat abad kesembilan belas dan abad kedua puluh banyak bermunculan aliran-aliran baru dalam filsafat antara laian: positivisme, marxisme, eksistensialisme, pragmatisme, neokantianisme, neo-tomisme dan fenomenologi. Berkaitan dengan filosofi penelitian Ilmu Sosial, aliran yang tidak bisa dilewatkan adalah positivisme yang digagas oleh filsuf A. Comte (1798-1857). Menurut Comte pemikiran manusia dapat dibagi kedalam tiga tahap yaitu, teologis, metafisis, dan positif ilmiah.
Pada periode ini juga muncul aliran Pragmatisme. Pragmatisme berasal dari kata pragma yang artinya guna. Maka pragmatisme adalah suatu aliran yang benar adalah apa saja yang membuktikan dirinya sebagai yang benar dengan akibat-akibat yang bermanfaat secara praktis. Tokohnya William James (1842-1910) lahir di New York, memperkenalkan ide-idenya tentang pragmatisme kepada dunia. Ia ahli dalam bidang seni, psikologi, anatomi, fisiologi dan filsafat. Selain itu juga muncullah filsafat analitis. Tokoh aliran ini adalah Ludwig Josef Johan Wittgenstein (1889-1951). Ilmu yang ditekuninya adalah ilmu penerbangan yang memerlukan studi dasar matematika yang mendalam. Filsafat analitis ini berpengaruh di Inggris dan Amerika sejak tahun 1950. Filsafat ini membahas mengenai analisis bahasa dan anlisis konsep-konsep.
C.    Pengertian Ilmu
Ilmu adalah suatu cabang dari beragam pengetahuan dan kajian.Ia adalah cabang yang berkaitan dengan verifikasi ataupun pengujian hakikat,metode,dan konsep dasar yang dikaji melalui eksperimen dan premis.
Ilmu pada dasarnya merupakan upaya manusia untuk menjelaskan berbagai  fenomena empiris yang terjadi di alam ini, tujuan dari upaya tersebut adalah untuk memperoleh suatu pemahaman yang benar atas fenomena tersebut. Terdapat kecenderungan yang kuat sejak berjayanya kembali akal pemikiran manusia adalah keyakinan bahwa ilmu merupakan satu-satunya sumber kebanaran, segala sesuatu penjelasan yang tidak dapat atau tidak mungkin diuji, diteliti, atau diobservasi adalah sesuatu yang tidak benar, dan karena itu tidak patut dipercayai.
Akan tetapi kenyataan menunjukan bahwa tidak semua masalah dapat dijawab dengan ilmu, banyak sekali hal-hal yang merupakan konsern manusia, sulit, atau bahkan tidak mungkin dijelaskan oleh ilmu  seperti masalah Tuhan, Hidup sesudah mati, dan hal-hal lain yang bersifat non – empiris. Oleh karena itu bila manusia hanya mempercayai kebenaran ilmiah sebagai satu-satunya kebenaran, maka dia telah mempersempit kehidupan dengan hanya mengikatkan diri dengan dunia empiris, untuk itu diperlukan pemahaman tentang apa itu kebenaran baik dilihat dari jalurnya (gradasi berfikir) maupun macamnya.
Pengertian ilmu menurut ahli diantaranya yaitu :
1.      Jujun S.Suriasumantri
Pada fase empiris rasional ilmu adalah sekedar apa yang dicapai,ilmu tak dirasakan sebagai  suatu tantangan.Dalam fase empiris rasional,Aristoteles mengatakan bahwa ilmu adalah kebijaksanaan yang mengajarkan bagaimana  manusia harus mengarahkan Negara.
2.      Kemeny
Ilmu diartikan sebagai semua pengetahuan yang terhimpun lewat metode  –  metode keilmuan.Pengetahuan diperoleh  sebagai hasil rentetan daur-daur penyimpul-rampatan (induksi), penyimpulan kekhasan (deduksi) dan penyahihan (verifikasi/validasi) yang terus-menerus tak kunjung usai.
3.      Muhammad Izzudin Taufiq
Ilmu adalah suatu keyakinan dengan realitas yang ada dan ilmu adalah menelusuri hakikat sesuatu atau mengungkapkan karakteristik sesuatu dengan optimal.
4.      Dr.Fu’ad Abu Hatab
Ilmu bukanlah suatu himpunan, namun suatu pergantian yang melewati masa-masa tenang,maka aktivitas keilmuan berjalan dengan lancar karena keilmuan dapat mengacu kepada teori-teori yang  diyakininya dan merupakan arahan bagi penelitiannya.(Filsafat ilmu-premis yang tersirat dan tersurat dalam fenomena keilmuan-problematika yang bias dikaji-ruang gerak yang terbatas dalam menemukan solusi yang tepat-konsep terbaik yang merupakan tujuan-waktu yang tepat untuk mengaplikasikan ilmu dan lain sebagainya.
D.    Teori tentang Pengetahuan
Epistemologi atau teori pengetahuan yang berhubungan dengan hakikat dari ilmu pengetahuan, pengandaian-pengandaian, dasar-dasarnya serta pertanggungjawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki oleh setiap manusia. Pengetahuan tersebut diperoleh manusia melalui akal dan panca indera dengan berbagai metode yaitu :
1.      Empirisme
Empirisme adalah suatu cara atau metode dalam filsafat yang mendasarkan cara memperoleh pengetahuan dengan melalui pengalaman. John Locke mengatakan bahwa pada waktu manusia dilahirkan akalnyamerupakan jenis catatan yang kosong, di dalam buku itulah dicatat pengalaman-pengalaman inderawi. Ia memandang akal sebagai tempat penampungan yang secara pasif menerima hasil-hasil penginderaan tersebut. Ini berarti semua pengetahuan kita, betapapun rumitnya dapat dilacak kembali sampai kepada pengalaman-pengalaman inderawi yang pertama. Apa yang tidak dapat atau tidak perlu dilacak kembali secara demikian itu bukanlah pengetahuan, atau setidaknya bukanlah pengetahuan-pengetahuanyang faktual.
2.      Rasionalisme
Rasionalisme berpendirian bahwa sumber pengetahuan terletak pada akal, bukan karena rasionalisme mengingkari nilai pengalaman, melainkan pengalaman paling-paling dipandang sebagai sejenis perangsang bagi pikiran. Para penganut rasionalisme yakin bahwa kebenaran dan kesesatan terletak di dalam ide kita dan bukan di dalam diri barang sesuatu. Jika kebenaran mengandung makna mempunyai ide yang sesuai dengan menunjuk pada kenyataan, maka kebenaran hanya dapat ada di dalam pikiran kita dan hanya dapat diperoleh dengan akal budi saja.
3.      Intuisi
Intuisi adalah hasil dari evolusi pemahaman yang tertinggi, suatu pengetahuan yang langsung, mutlak, dan bukan pengetahuan yang nisbi. Menurut Bergson, intuisi adalah suatu sarana untuk mengatahui secara langsung dan seketika. Setidaknya dalam bebrapa bentuk hanya mengatakan bahwa pengetahuan yang lengkap diperoleh melalui intuisi.
E.     Dasar-dasar Ilmu
1.      Aksiologi
Aksiologiadalahistilah yang berasaldari kata Yunaniyaitu; axios yang berartisesuaiatauwajar.Sedangkan logos yang berartiilmu.Aksiologidipahamisebagaiteorinilai.JujunS.Suriasumantrimengartikaaksiologisebagaiteorinilai yang berkaitandengankegunaandaripengetahuan yang diperoleh.Menurut John Sinclair, dalamlingkupkajianfilsafatnilaimerujukpadapemikiranatausuatusistemsepertipolitik, sosialdan agama. sedangkannilaiitusendiriadalahsesuatu yang berharga, yang diidamkanolehsetiapinsan.
Aksiologiadalahilmu yang membicarakantentangtujuanilmupengetahuanitusendiri.JadiAksiologimerupakanilmu yang mempelajarihakikatdanmanfaat yang sebenarnyadaripengetahuan, dansebenarnyailmupengetahuanitutidakada yang sia-siakalaukitabisamemanfaatkannyadantentunyadimanfaatkandengansebaik-baiknyadan di jalan yang baik pula.Karenaakhir-akhirinibanyaksekali yang mempunyaiilmupengetahuan yang lebihitudimanfaatkan di jalan yang tidakbenar.
Pembahasanaksiologimenyangkutmasalahnilaikegunaanilmu.Ilmutidakbebasnilai.Artinyapadatahap-tahaptertentukadangilmuharusdisesuaikandengannilai-nilaibudayadan moral suatumasyarakat; sehingganilaikegunaanilmutersebutdapatdirasakanolehmasyarakatdalamusahanyameningkatkankesejahteraanbersama, bukansebaliknyamalahanmenimbulkanbencana.
Tiga bagian aksiologi menurut Brammel yaitu :
1.      Moral conduct, yaitu tindakan moral, melahirkan disiplin khusus yakni etika
2.      Esthetic expression, yaitu ekspresi keindahan, melahirkan keindahan
3.      Sosio polical life, yakni kehidupan sosial politik, melahirkan filsafat sosial politik
2.      Epistemologi
Epistemologi berarti pikiran, percakapan tentang pengetahuan, bisa juga disebut teori pengetahuan. Pengetahuan adalah apa yang kita ketahui yang berupa kesimpulan yang merupakan hasil dari pengamatan terhadap sesuatu gejala yang spasial atau segala tahunya sesuatu secara bagian per bagian seseorang baik bersumber dari dirinya sendiri maupun dari orang lain mengenai segala sesuatu dan dasar segala seuatu.
Epistemologiatauteoripengetahuanadalahcabangfilsafat yang berurusandenganhakikatdanlingkuppengetahuan, pengandaian-pengandaiandandasar-dasarnyasertapertanggungjawabanataspernyataanmengenaipengetahuan yang dimiliki.Mula-mulamanusiapercayabahwadengankekuasaanpengenalannyaiadapatmencapairealitassebagaimanaadanyaparafilosofpraSokrates, yaitufilosofpertama di alamtradisi Barat, tidakmemberikanperhatianpadacabangfilsafatinisebabmerekamemusatkanperhatian, terutamapadaalamdankemungkinanperubahan, sehinggamerekakerapdijulukifilosofalam.
3.      Ontologi
Pembahasan tentang ontologi sebagai dasar suatu ilmu ialah berusaha untuk menjawab apa, yang menurut Aristoteles merupakan The First Philosophy dan merupakan ilmu mengenai esensi benda. Secara etimologi, kata ontologi berasal dari bahasa Yunani, yaitu On yang berarti ada, dan Logos yang berarti Ilmu pengetahuan, jadi ontologi adalah ilmu yang mempelajari tentang segala yang ada. Sedangkan pengertian ontologi secara terminologi yaitu ontologi adalah menyelidiki sifat dasar dari apa yang nyata secara fundamental dan cara yang berbeda di mana entitas dari kategori-kategori yang logis yang berlainan (objek-objek fisis, hal universal, abstraksi) dapat dikatakana ada, dalam kerangka tradisional ontologi dianggap sebagai teori mengenai prinsip-prinsip umum dari hal ada, sedangkan dalam hal pemakaiannya akhir-akhir ini ontologi dipandang sebagai teori mengenai apa yang ada.
Ontologidalamfilsafatanalitik, menyangkutmenentukanapakahbeberapakategori yang sangatpentingdanbertanyadalamapaarti item dalamkategoritersebutdapatdikatakan "menjadi". Iniadalahpenyelidikanberada di begitubanyaksepertisedang, ataumenjadimakhluksejauhmerekaada-dantidaksejauh, misalnya, fakta-faktatertentu yang diperolehtentangmerekaataupropertitertentu yang berhubungandenganmereka.MenurutEnsiklopedi Britannica Yang jugadiangkatdariKonsepsiAristotelesOntologiYaituteoriataustuditentang being / wujudsepertikarakteristikdasardariseluruhrealitas.Ontologisinonimdenganmetafisikayaitu, studifilosofisuntukmenentukansifatnyata yang asli (real nature) darisuatubendauntukmenentukanarti ,strukturdanprinsipbendatersebut. (FilosofiinididefinisikanolehAristotelesabad ke-4 SM).
Ontologi merupakan salah satu di antara lapangan penyelidikan kefilsafatan yang paling kuno. Awal mula alam pikiran Yunani telah menunjukan munculnya perenungan di bidang ontologi. Dalam persolan ontologi orang menghadapi persoalan bagaimanakah kita menerangkan hakikat dari segala yang ada ini? Pertama kali orang dihadapkan pada adanya dua macam kenyataan, yaitu kenyataan yang berupa materi (kebenaran) dan kenyataan yang berupa rohani (kejiwaan). Dengan demikian, metafisika umum atau ontologi adalah cabang filsafat yang membicarakan prinsip paling dasar atau paling dalam dari segala sesuatu yang ada.
F.     Sejarah Perkembangan Ilmu
Perkembangan ilmu pengetahuan seperti sekarang ini tidaklah berlangsung secara mendadak, melainkan terjadi secara bertahap, evolutif. Karena untuk memahami sejarah perkembangan ilmu mau tidak mau harus melakukan pembagian atau klasifikasi secara periodik, karena setiap periode menampilkan ciri khas tertentu dalam perkembangan ilmu pengetahuan. Perkembangan pemikiran secara teoritis senantiasa mengacu kepada peradaban Yunani Kuno dan diakhiri pada zaman kontemporer.
1.      Zaman Pra Yunani Kuno
Pada abad ke-6 SM di Yunani muncul lahirnya filsafat. Timbulnya filsafat ditempat itu disebut suatu peristiwa ajaib (the greek miracle). Ada beberapa faktor yang sudah mendahului dan seakan-akan mempersiapkan lahirnya filsafat di Yunani. Beberapa faktor tersebut diantaranya : pada bangsa Yunani dan bangsa-bangsa sekitarnya terdapat suatu mitologi yang kaya dan luas, Kesusastraan Yunani berupa puisi karya Homeros yang sangat digemari oleh rakyat untuk mengisi waktu terluang dan serentak juga mempunyai nilai edukatif, dan pengaruh ilmu pengetahuan yang pada waktu itu sudah terdapat di Timur Kuno.
Pada zaman pra Yunani Kuno di dunia ilmu pengetahuan dicirikan berdasarkan know how yang dilandasi pengalaman empiris. Disamping itu, kemampuan berhitung ditempuh dengan cara one-to one correspondency atau mapping process. Contoh, cara menghitung hewan yang akan masuk dan keluar kandang dengan menggunakan kerikil. Namun pada masa ini manusia sudah mulai memperhatikan keadaan alam semesta sebagai suatu proses alam. Dengan demikian lama kelamaan mereka juga memperhatikan dan menemukan hal-hal lainnya.
2.      Zaman Yunani Kuno
Zaman Yunani kuno dipandang sebagai zaman keemasan filsafat, karena pada zaman ini orang memiliki kebebasan untuk mengungkapkan ide-ide atau pendapatnya. Yunani pada masa itu dianggap sebagai gudang ilmu dan filsafat, karena bangsa Yunani pada masa itu tidak lagi mempercayai mitologi-mitologi. Bangsa Yunani juga tidak dapat menerima pengalaman yang didasarkan pada sikap menerima begitu saja, melainkan menumbuhkan sikap yang senang menyelidiki sesuatu secara kritis.Sikap belakangan inilah yang menjadi cikal bakal tumbuhnya ilmu pengetahuan modern. Sikap kritis inilah menjadikan bangsa Yunani tampil sebagai ahli pikir terkenal sepanjang masa. Beberapa filsuf pada masa itu antara lain Thales, Phytagoras. Socrates, Plato, dan Aristoteles.
3.      Zaman Abad Pertengahan
Zaman abad pertengahan ditandai dengan tampilnya para teolog di lapangan ilmu pengetahuan. Para ilmuwan pada masa ini hampir semua adalah para teolog, sehingga aktivitas terkait dengan aktivitas keagamaan. Semboyan yang berlaku bagi ilmu pada masa ini adalah ancilla theologia atau abdi agama. Namun demikian harus diakui bahwa banyak juga temuan dalam bidang ilmu yang terjadi pada masa ini.Periode abad pertengahan mempunyai perbedaan yang mencolok dengan abad sebelumnya.
Perberdaan itu terletak pada dominasi agama. Timbulnya agama Kristen yang diajarkan oleh Nabi Isa as. pada permulaan abad Masehi membawa perubahan besar terhadap kepercayaan keagamaan. Agama Kristen menjadi problem kefilsafatan karena mengajarkan bahwa wahyu Tuhanlah yang merupakan kebenaran yang sejati. Hal ini berbeda dengan pandangan Yunani Kuno yang mengatakan bahwa kebenaran dapat dicapai oleh kemampuan akal. Mereka belum mengenal adanya wahyu.
4.      Zaman Renaissance
Zaman Renaissance ditandai sebagai era kebangkitan kembali pemikiran yang bebas dari dogma-dogma agama. Renaissance adalah zaman peralihan ketika kebudayaan abad Pertengahan mulai berubah menjadi suatu kebudayaan modern. Manusia ingin mencapai kemajuan atas hasil usaha sendiri, tidak didasarkan atas campur tangan Ilahi. Penemuan ilmu pengetahuan modern sudah mulai dirintis pada zaman Renaissance. Ilmu pengetahuan yang berkembang maju pada masa ini adalah bidang astronomi. Tokoh-tokoh yang terkenal seperti Roger Bacon, Copernicus, Johannes Keppler, Galileo Galilei.
5.      Zaman Modern
Zaman modern ditandai dengan berbagai penemuan dalam bidang ilmiah. Perkembangan ilmu pengetahuan pada zaman modern sesungguhnya sudah dirintis sejak zaman Renaissance. Seperti Rene Descartes, tokoh yang terkenal sebagai bapak filsafat modern. Rene Descartes juga seorang ahli ilmu pasti. Penemuannya dalam ilmu pasti adalah sistem koordinat yang terdiri atas dua garis lurus X dan Y dalam bidang datar. Isaac Newton dengan temuannya teori gravitasi. Charles Darwin dengan teorinya struggle for life (perjuangan untuk hidup). J. J. Thompson dengan temuannya elektron.
6.      Zaman Kontemporer 
Zaman kontemporer ini ditandai dengan penemuan berbagai teknologi canggih. Teknologi canggih komunikasi dan informasi termasuk salah satu yang mengalami kemajuan sangat pesat. Mulai dari penemuan komputer, berbagai satelit komunikasi, internet, dan sebagainya. Bidang ilmu lain juga mengalami kemajuan pesat, sehingga terjadi spesialisasi ilmu yang semakin tajam. Ilmuwan kontemporer mengetahui hal yang sedikit, tetapi secara mendalam. Ilmu kedokteran semakin menajam dalam spesialis dan subspesialis atau super-spesialis, demikian pula bidang ilmu lain. Disamping kecenderungan kearah spesialisasi, kecenderungan lain adalah sintesis antara bidang ilmu satu dengan lainnya, sehingga dihasilkannya bidang ilmu baru seperti bioteknologi yang dewasa ini dikenal dengan teknologi kloning.
BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
1.      Filsafat adalah ilmua pengetahuan yang meliputi kebenaran, yang di dalamnya terkandung ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika (filsafat menyelidiki sebab dan asas segala benda).
2.      Perkembangan Filsafat dimulai dari zaman yunani kuno, zaman kegelapan, zaman pencerahan, zaman awal modern, zaman modern, dan zaman pos modern.
3.      Ilmu adalah suatu cabang dari beragam pengetahuan dan kajian.Ia adalah cabang yang berkaitan dengan verifikasi ataupun pengujian hakikat,metode,dan konsep dasar yang dikaji melalui eksperimen dan premis.
4.      Pengetahuan tersebut diperoleh manusia melalui akal dan panca indera dengan berbagai metode yaitu empirisme, rasionalisme, dan intuisi.
5.      Dasar-dasar ilmu ada tiga yaitu aksiologi, epistemologi, dan ontologi
6.      Perkembangan ilmu pengetahuan seperti sekarang ini tidaklah berlangsung secara mendadak, melainkan terjadi secara bertahap, evolutif. Perkembangan pemikiran secara teoritis senantiasa mengacu kepada peradaban Yunani Kuno dan diakhiri pada zaman kontemporer.
B.     Saran
Penulis menyadari dalam pembuatan makalah ini masih terdapat kekurangan. Untuk itu kritik, saran dan pendapat yang bersifat membangun sangat penulis harapkan dari para pembaca untuk perbaikan yang akan datang.










DAFTAR PUSTAKA

Ghulsyani,mahdi. 1986. Filsafat-Sains menurut Al-Qur’an. Bandung: Penerbit Mizan
Sanusi, syamsul.2015. Filsafat ilmu.Makassar (Catatan perkuliahan)




















Tidak ada komentar:

Posting Komentar