SEJARAH MANUSIA PURBA
SELVI DIANA
1464040020
PENDIDIKAN IPS
FAKULTAS ILMU SOSIAL
UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR
2015
1.
Masyarakat
Berburu dan Meramu
Kehidupan manusia pada masa berburu dan
meramu sangat bergantung dengan alam. Daerah yang ditempati oleh manusia
tersebut harus dapat memberikan persediaan makanan yang cukup untuk
memungkinkan kelangsungan hidupnya.Oleh karena itu, tempat menarik untuk di
diami pada saat itu adalah daerah yng cukup mengandung bahan makanan dan air,
terutama tempat yang sering didatangi atau dilalui oleh binatang. Tempat
semacam itu umumnya berupa padang rumput dengan semak belukar dan hutan kecil
yang berdekatan dengan sungai atau danau.Di sekitar tempat itu, manusia membuat
tempat tinggal yang cukup dilindungi dengan dahan dan daun-daunan. Selain itu,
mereka juga banyak tinggal di gua untuk menghindari serangan binatang buas.
Dengan menggunakan gua sebagai
pangkalan, manusia purba mencari makan pada pagi hari dan kembali ke gua pada
sore hari. Pada hari berikutnya melakukan kegiatan yang sama, tetapi dengan
arah yang berbeda.Demikian terus-menerus berganti arah dan apabila sumber
makanan habis, mereka akan berpindah ke tempat yang lain. Pola bertempat
tinggal seperti itu bukan murni nomaden, melainkan semi nomaden.
Bila makanan di tempat itu habis, maka mereka pindah ke tempat lain yang ada
makanan, karena itu cara hidup mereka disebut food gathering.
Manusia purba pada masa berburu dan meramu tingkat
awal, hidup dalam kelompok-kelompok dan membekali diri untuk menghadapi
lingkungan sekitarnya. Kelompok berburu tersusun atas keluarga kecil. Pihak
laki-laki melakukan perburuan, sedangkan perempuan mengumpulkan bahan makanan
(tumbuh-tumbuhan) dan mengurus anak.
Peralatan manusia purba dapat memberikan petunjuk cara
mereka hidup. Mereka hidup dari berburu dan meramu, sehingga peralatan utamanya
adalah alat-alat berburu. Alat tersebut digunakan untuk memotong daging dan
tulang dari binatang buruan yang mereka peroleh. Selain itu, mereka juga
menggunakan alat itu untuk mengeluarkan umbi-umbian dari dalam tanah.
Selain alat dari batu, manusia praaksara pada masa
berburu dan meramu tingkat awal juga menggunakan alat-alat dari tulang.
Alat-alat dari tulang pada zaman tersebut untuk sementara hanya ditemukan di
Ngandong (Ngawi, Jawa Timur) dan Sampung (Ponorogo). Alat-alat tersebut diduga
hasil budaya Pithecanthropus soloensis pada kala pleistosen.
Manusia pada waktu itu hidup berkelompok antara 20-50
orang dan mereka membekali diri dengan peralatan sederhana guna
menghadapilingkungannya, baik dari binatang liar, maupun dari bencana alam,
terutama gunung api. Mereka membatasi jumlah anggota kelompoknya demi
keberhasilan perburuannya, misalnya dengan memusnahkan anak-anaknya terutama
yang perempuan yang baru lahir karena dianggap menghalangi gerak perpindahannya
dan kegiatan perburuan. Hal ini disebabkan karena yang melakukan adalah
laki-laki, sedang perempuan mengumpul makanan, mengurus anak-anak dan
membimbing anak-anaknya meramu makanan dan memelihara api (setelah api
ditemukan).
Sementara itu, bahasa sebagai alat komunikasi mulai
terbentuk melalui kata-kata dan gerakan-gerakan badan, jadi komunikasi dengan
bahasa sederhana.
2. Masyarakat Berburudan Meramu Tingkat
Lanjut
Pada
masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut, di Indonesia sudah ada
usaha-usaha untuk bertempat tinggal secara tidak tetap di gua-gua alam,
utamanya di gua-gua paying, yang setiap saat mudah untuk ditinggalkan, jika
dianggap sudah tidak memungkinkan lagi tinggal di tempat itu.
Masa
ini merupakan kelanjutan dari cara hidup sebelumnya, namun perubahan tersebut
tidak begitu drastis. Alat-alat yang digunakan dibuat dari batu, tulang, dan
kulit kerang. Namun dalam kehidupan manusia mulai nampak kegiatan-kegiatan yang
menghasilkan sesuatu yang belum dicapai sebelumnya, misalnya pembuatan
lukisan-lukisan pada dinding-dinding gua atau karang, penguburan mayat dan
mulai bertempat tinggal di gua-gua serta di tepi pantai. Cara hidup nomaden
serta berburu dan mengumpulkan makanan kemudian berangsur-angsur ditinggalkan,
dan selanjutnya mulai menjinakkan hewan dan bercocok tanam sederhana.
Kehidupan
di gua-gua membawa pengaruh terhadap pemanfaatan api, baik sebagai penerangan,
maupun sebagai pemanas tubuh dan makanan, serta alat menghalau binatang buas.
Bahkan kehidupan di gua-gua juga menumbuhkan seni lukis di dinding-dinding gua
sesuai dengan kepercayaan magis-religius mereka waktu itu, seperti yang
ditemukan di Sulawesi Selatan dan Maluku. Keadaan bumi atau lingkungan alam
yang berubah membawa pengaruh besar terhadap perkembangan kebudayaan dan
peradaban manusia dan sekaligus merupakan kesuksesan manusia dalam menghadapi
tantangan alamnya.
Kehidupan
manusia pada masa ini masih dipengaruhi oleh cara hidup sebelumnya yang
bergantung pada alam. Meskipun demikian, mereka telah menunjukkan keinginan
bertempat tinggal dalam gua-gua alam atau gua-gua payung walaupun secara tidak
tetap. Gua yang dipilih adalah gua yang tidak jauh dari tempat air dan sumber
makanan.
Bahan-bahan
makanan yang dikumpulkan dikorek,dibersihkan, dilepaskan kulitnya dengan golok
atau tanduk, sudip tulang, dan penggaruk dari kulit kerang, atau alat tusuk
dari kayu. Diduga mereka sudah mulai menjinakkan binatang (anjing) untuk
membantunya dalam berburu, penjaga tempat tinggal, tetapi belum dimaksudkan
untuk mengembangbiakkan binatang.
Ada
tiga tradisi pokok pembuatan alat-alat pada masa Fos Plestosin, yaitu tradisi
serpih bilah, tradisi alat tulang, dan tradisi kapak genggam Sumatera.
Persebaran alatnya meliputi pulau Sumatera, Jawa, Sulawesi, Nusa Tenggara
Timur, Maluku, dan Papua. Alat tulang ditemukan di Tonkin, Asia Tenggara
sedangkan di Jawa ditemukan di Gua Law Semanding Tuban, di Gua Petpuruh utara
Prajekait dan Sodong Marjan di Besuki. Kapak genggam Sumatera ditemukan di
daerah pesisir Sumatera Utara, yaitu di Lhokseumawe, Binjai, dan Tamiang.
Kesenian
dalam masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut, khususnya seni
lukis ditemukan di gua-gua ataupun dinding karang Sulawesi Selatan, Sulawesi
Tenggara, Seram, Kei, dan Irian Jaya.
Menurut
hasil penelitian para ahli purbakala Belanda, Australia, Inggris, dan Indonesia
terhadap sisa-sisa kebudayaan di gua-gua Sulawesi Selatan, disimpulkan bahwa
kebudayaan tersebut berkembang antara 5.000-1.000 tahun sebelum masehi.
Sedangkan di Sulawesi Tenggara ditemukan lukisan manusia dalam berbagai sikap,
binatang, matahari, dan perahu layak dinaiki orang. Lukisan-lukisan itu
berwarna coklat dan gaya lukisan lebih mirip dengan corak lukisan di Seram,
Kei, dan Irian Jaya.
3.
Masyarakat
Bercocok Tanam dan Beternak
Masa bercocok tanam lahir melalui
proses yang panjang, dan tidak dapat dilepaskan kaitannya dengan usaha manusia
prasejarah dalam memenuhi kebutuhannya pada masa-masa sebelumnya. Proses itu
melalui liku-liku hidup yang sangat lambat dan panjang yang sama dengan Afrika,
Eropa, dan Asia.
Masa ini sangat penting dalam
sejarah perkembangan masyarakat dan peradaban, karena dalam masa ini beberapa
penemuan baru berupa penggunaan sumber-sumber alam bertambah cepat. Berbagai
macam tumbuhan dan hewan mulai dipelihara dan dijinakkan. Pembuatan alat-alat
keperluan sehari-hari mulai ditingkatkan. Pemenuhan kebutuhan tidak lagi
digantungkan pada alam, tetapi sudah mulai dikuasai, sehingga cara hidup tidak
lagi food gathering, tetapi sudah
dengan food producing.
Mereka juga mulai hidup menetap di
suatu perkampungan yang terdiri atas tempat tinggal sederhana yang didiami
secara berkelompok oleh beberapa keluarga. Populasi mulai meningkat dan
kegiatan-kegiatan dalam kehidupan perkampungan ditujukan untuk mencukupi
kebutuhan bersama diatur dan dibagi antar anggota masyarakat (gotong royong)
dan kepercayaan pun erat kaitannya dengan upaya meningkatkan dan mempertahankan
kesejahteraan hidup bersama. Karena itu, tidaklah berlebihan jika masa bercocok
tanam ini disebut sebagai revolusi yang maha besar dalam peradaban manusia.
Pada masa ini, berkembang kemahiran
mengupam alat-alat batu dan pembuatan gerabah. Alat-alat yang diupam (diasah)
pada umumnya adalah beliung dan kapak batu, serta pada beberapa tempat
,pengupaman dilakukan pada mata panah dan mata tembak.Masyarakat mulai hidup
menetap di suatu tempat serta mengembangkan penghidupan baru berupa kegiatan
bercocok tanam sederhana dan penjinakan hewan-hewan tertentu seperti anjing,
ayam, babi, dan kerbau.
Bentuk rumah diduga pada tingkat
permulaan agak kecil, berbentuk kebulat-bulatan dengan atap daun-daunan yang
langung menempel ke tanah. Kemudian berkembang lebih besar, berupa rumah
bertiang persegi panjang. Rumah bertiang itu dimaksudkan untuk menghindarkan
diri dari binatang buas dan banjir. Rumah itu didiami sepanjang tahun, tetapi
pada musim panen, seisi rumah pindah ke dekat ladang dengan mendirikan gubuk-gubuk darurat.
Pembuatan rumah dilakukan gotong royong dan disertai dengan upacara-upacara
yang bertingkat-tingkat dengan bermacam-macam pantangan.
Kegiatan bercocok tanam
menghasilkan keladi, sukun, manggis, pisang, durian, rambutan, duku, salak,
kelapa, sagu atau rumbia. Mungkin pula tanaman rumput-rumputan, sedangkan
tanaman biji-bijian mungkin berkembang kemudian. Sayur juga sudah dikenal.
Kegiatan berburu dan menangkap ikan di beberapa tempat masih diteruskan, baik
sebagai kegiatan pokok maupun sebagai kegiatan sampingan.
Ditempat tandus, muncul
industri-industri lokal yang menghasilkan alat-alat kerja umtuk kepentingan
masyarakat, misalnya kerajinan anyaman, membuat gerabah, mengasah alat-alat
kerja, dan lain-lain yang umumnya dikerjakan oleh anak-anak atau wanita. Di
samping itu, ada kegiatan membuat perahu dan rakit oleh kaum laki-laki secara
gotong royong yang dibuat dari batang pohon, termasuk pembuatan bercadik.
Masyarakat pada masa bercocok
tanam, menganggap tanah sebagai unsur penting dalam kehidupan. Dalam segi
kepercayaan manusia sudah memulai sikap baru terhadap alam kehidupan sesudah
mati. Mereka mulai percaya bahwa roh seseorang tidak lenyap pada saat orang
meninggal, roh dianggap mempunyai kehidupan di alamnya tersendiri sesudah
meninggal. Bagi tokoh yang berjasa dalam masyarakat, pada waktu meninggal
diberikan perlengkapan-perlengkapan yang diperlukan dalam perjalanannya menuju
dunia arwah dan penguburannya dilakukan pesta-pesta tertentu serta kuburannya
dalam bentuk batu besar yang kemudian menjadi lambang perlindungan dan menjadi
media pemujaan kepada arwah nenek moyang.
Konsepsi pemujaan arwah nenek
moyang melahirkan tata cara yang menjaga tingkah laku masyarakat di dunia fana
supaya sesuai dengan tuntutan dunia akhirat serta kesejahteraan di dunia, dan
pada gilirannya berpengaruh pada pendirian candi-candi.
4.
Masyarakat
Perundagian
Masa perundagian merupakan masa perubahan besar dalam
hasil-hasil kebudayaan. Pada masa perundagian ini, manusia Indonesia telah
banyak menciptakan hasil-hasil kebudayaan, terutama yang berwujud benda atau
alat-alat dengan teknologi tinggi. Pada masa perundagian ini, orang-orang
Indonesia mengembangkan teknologi yang tinggi dalam mengolah sumber daya alam.
Masa perundagian yang dibagi ke dalam tiga zaman yaitu zaman tembaga, zaman
perunggu dan zaman besi. Tetapi telah kita ketahui bahwa di Asia Tenggara,
khususnya Indonesia tidak dikenal adanya zaman tembaga. Hal ini dibuktikan
dengan tidak ditemukannya artefak-artefak yang dibuat dari tembaga.
Masa perundagian dibagi menjadi zaman perunggu dan
zaman besi. Pada zaman perunggu, orang-orang Indonesia banyak menghasilkan
benda atau alat-alat yang menggunakan teknologi tinggi. Berkembangnya teknologi
pada zaman perunggu ini karena ditemukannnya penemuan-penemuan baru berupa
teknik peleburan, pencampuran, penempaan dan pencetakan jenis-jenis logam. Di
Indonesia zaman logam tersebut dikenal dengan zaman perunggu. Kepandaian untuk
menggunakan barang-barang logam harus dikuti dengan kepandaian teknis tentang
cara-cara pengerjaan bahan-bahan logam tersebut.
Pada masa ini, seni ukir sudah berkembang dengan
penggunaan pola-pola geometrik sebagai pola utama dan pahatan-pahatan pada batu
yang menggambarkan orang dan binatang bergaya dinamis dan memperlihatkan gerak.
Disamping itu, terdapat kecenderungan melukikan hal-hal yang bersifat simbolis
dan abstrak-stilistis. Benda-benda perunggu diciptakan bukan hanya untuk
keperluan hidup tetapi juga untuk keperluan religius.
Pada masa perundagian telah banyak hasil-hasil
kebudayaan yang bernilai tinggi. Hasil-hasil kebudayaan yang terdapat pada masa
ini berwujud ide atau gagasan, norma-norma atau peraturan, dan aktivitas sosial
maupun wujud kebendaan. Berbagai hasil-hasil kebudayaan yang diwujudkan ke
dalam tiga bentuk tersebut dapat kita temukan. Dari keseluruhan hasil-hasil
kebudayaan pada masa perundagian, sebagaian besar hasil-hasil tersebut berwujud
benda-benda berupa alat-alat. Sedikit sekali hasil kebudayaan pada masa ini
yang berwujud norma dan peraturan.
Banyaknya hasil-hasil kebudayaan masyarakat pada masa perundagian
berwujud benda yang terdiri dari berbagai macam alat-alat disebabkan karena
pada masa perundagian ini manusia telah mengenal teknologi yang lebih bersifat
modern dan memiliki keahlian untuk membuat alat-alat tersebut. Pada masa
perundagian kemahiran membuat alat-alat semakin berkembang sebagai akibat
terjadinya golongan-golongan dalam masyarakat yang bertugas secara khusus
membuat alat-alat. Pada masa perundagian, teknologi pembuatan benda-benda makin
meningkat, terutama setelah ditemukannya campuran antara timah dan tembaga yang
mengahasilkan logam perunggu.
Suatu kemahiran baru pada masa perundagian adalah
kepandaian menuangkan logam. Teknik melebur logam merupakan teknik yang tinggi,
karena pengetahuan semacam itu belum dikenal dalam masa sebelumnya. Logam harus
dipanaskan sehingga mencapai titik lebur, kemudian baru dicetak menjadi
bermacam-macam jenis perkakas atau benda lain yang diperlukan. Teknik pembuatan
benda-benda perunggu ada dua macam, yaitu dengan cetakan setangkup (bivalve)
dan cetak lilin (a cire perdue). Cetakan setangkup, yaitu cara menuangkan
dengan membuat cetakan dari batu. Teknik ini dilakukan untuk benda-benda yang
tidak mempunyai bagianbagianyang menonjol.
Kepercayaan kepada arwah nenek moyang sangat menonjol.
Kepercayaan ini dianggap mempengaruhi perjalanan hidup manusia. Hiasan-hiasan
pada kubur batu yang berbentuk topeng (manusia dan binatang) menggambarkan
hubungan dengan alam arwah, selain melindungi arwah dalam perjalanan ke dunia
arwah, dapat memberikan perlindungan kepada keturunan yang masih hidup.
Kadal dianggap binatang keramat karena merupakan
penjelmaan arwah nenek moyang atau pemimpin suku yang dapat memberikan
perlindungan. Kepercayaan tentang kelahiran kembali sesudah mati, sudah ada
pada masa perundagian. Pemujaan kepada arwah nenek moyang berupa benda-benda
tertentu di atas bukit merupakan pusat pemujaan. Mereka percaya bahwa arwah
nenek moyang turun di waktu-waktu tertentu di tempat tersebut untuk di mohon
restunya. Sebagai tanda bakti, maka ditanamlah benda-benda tertentu di
pelataran tempat pemujaan itu.
Kehidupan dalam masyarakat masa perundagian
memperlihatkan rasa kesetiakawanan yang kuat dalam mewujudkan sifat solidaritas
itu. Akibatnya kebebasan individu agak terbatas, karena pelanggaran yang
dilakukan dianggap membahayakan masyarakat.
Pada masa ini sudah ada kultur kepemimpinan dan
pemujaan kepada sesuatu yang suci di luar diri manusia yang tidak mungkin
disaingi serta di luar batas kemampuan manusia. Semua yang ada dalam alam ini
ada yang menguasainya. Dalam masyarakat perundagian, mulai jelas adanya
perbedaan golongan-golongan tertentu seperti pengatur upacara yang berhubungan
dengan kepercayaan, petani, pedagang dan pembuat benda-benda logam atau gerabah
untuk menaikkan derajat dalam masyarakat, setiap orang berusaha membuat jasa
sebanyak-banyaknya dengan perbuatan yang luar biasa berani, sehingga berhak
memperoleh kepemimpinan.
SUMBER
MATERI atau BAHAN REFERENSI dari :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar